Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

10/03/2011

Kesan Pertama Keretaku Melaju Kencang

Keretaku & Sepincuk Pecel Garahan

   Naik kereta api... tuuut... tutt...tutt...... Siapa hendak turut.. ke Bandung Surabaya........

   Lantunan lagu di atas mengingatkanku saat masa kecil, dimana aku dan teman-temanku asyik bermain membentuk kereta-keretaan lalu mengelilingi ruangan kelas layaknya kereta api yang tengah melaju kencang. Rindu sekali saat-saat seperti itu. Namun sayangnya sampai menginjak remaja aku belum pernah naik kendaraan umum yang satu ini. Yah, hanya bisa menyanyikannya namun belum pernah tahu bagaimana rasanya naik kereta api. Berawal dari hal tersebut, maka sore kemarin aku pun menekatkan diri untuk pulang ke rumah dengan naik kereta api sendirian. Beginilah kesan pertamaku...
  Setelah membeli tiket seharga 4000 rupiah di loket untuk kereta Pandanwangi rute Jember-Banyuwangi, aku segera melesat menuju badan kereta, takut kalau-kalau ketinggalan ataupun tidak dapat tempat duduk. Maklum, karena jadwal keberangkatan pada sore hari membuatku malas rasanya untuk segera siap-siap berkemas pulang setelah terbangun dari tidur siangku tadi. Alhasil, aku agak terlambat dan tiada bangku kereta yang kosong untukku. Ku telurusi dari gerbong-gerbong kelas ekonomi, namun semuanya penuh. Hm,, untungnya ada bangku yang hanya terisi dua orang yang badannya lumayan kurus, jadi bangku yang sebenarnya untuk dua orang bisa diduduki oleh tiga orang. Hehe. Akhirnya aku meminta kedua orang itu bergeser dan berbagi tempat duduk denganku. 
    Saat peluit panjang dibunyikan, berarti kereta akan segera melaju. Aduh, bener-bener tidak sabar. Jadilah diriku senyum-senyum sendiri tapi aku tahan, malu juga sih dilihatin orang-orang. Apa kata orang usia udah kepala dua tapi belum pernah naik kereta api sama sekali. Nah, akhirnya roda kereta pun bergerak, pelan-pelan, agak cepat dan keretaku pun melaju dengan kencangnya menyusuri rel-rel yang telah berjajar rapi. Senangnya.. rasanya sangat berbeda sekali dengan naik kendaraan umum lainnya. Akhirnya aku bisa melihat pemandangan alam ciptaan Illahi yang begitu indah. Dari balik jendea kereta semua tampak begitu jelas, seperti hamparn sawah menghijau, bukit-bukit, serta pegunungan yang indah, menawan dan sangat menenangkan hati. Seketika segala masalah dan pikiran yang sering menerpaku langsung terlupakan. Benar-benar terapi relaksasi yang amat manjur. 
   Ada sebuah fenomena lain yang amat berkesan. Apakah itu? Yup! Naik kereta benar-benar merakyat. Berbaur dengan masyarakat yang berbeda-beda dalam satu tempat. Yang lebih unik lagi di dalam kereta terdapat banyak penjual makanan, mulai dari bipang, brem, air mineral, keripik pisang, telur puyuh, dan berbagai macam camilan lainnya. Ini dia yang khas sekali dari perjalanan naik kereta. Murah meriah! Harga makanan rata-rata sama dengan harga yang dijual di warung-warung lesehan atau toko kelontong pinggir jalan. Tentu saja, karena bebas pajak dan sewa tempat. Akhirnya 6 buah bipang masuk ke dalam tas ranselku.
   Setelah satu jam kemudian, keretaku memasuki wilayah pegunungan, yaitu gunung Kumitir, yang tak lain adalah wilayah perbatasan antara Jember-Banyuwangi. Dan tiba-tiba keretaku pun melambat. Ternyata aku telah sampai di Stasiun Merawan, Kumitir. Kereta berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Namun begitu kereta terhenti, lagi-lagi tingkah para penumpang membuatku bertanya-tanya apa yang tengah mereka lakukan. Ya, sebagian penumpang kereta banyak yang berdiri menghadap ke jendela masing-masing sambil mengulurkan tangan ke luar kereta. Aku menjadi amat penasaran dan mencari tahu apa penyebabnya. Ah, ternyata di samping-samping kereta terdapat banyak penjual pecel, tepatnya pecel Garahan. Uniknya, penumpang hanya tinggal meneriakkan suara lantang pada penjual pecel, dan penjual akan menghampiri mereka sembari menyodorkan pecel yang dipesan oleh penumpang tadi. Jadi, transaksi dilakukan dari celah jendela kereta yang sedikit terbuka. Tentunya, transaksi harus dilakukan dengan sangat cepat karena kereta akan segera malaju kembali, dan perlu diingat saat membayar haruslah membayar dengan uang pas, karena penjual takkan sempat memberi uang pengembalian pada anda. Aku pun tak mau kalah. Aku juga turut membeli seporsi makanan khas Garahan itu. Lumayan murah, seporsi pecel pincuk'an dihargai 3000 perak yang sudah dapat mengencangkan perut. Dan jangan khawatir kalau haus, anda tinggal memanggil penjual yang ada di dalam kereta yang telah siap menawarkan berbagai macam minuman dinginnya buat anda.
   Tak lama kemudian, tepat pukul 17.00 keretaku pun berhenti di stasiun Kalibaru. Sudah saatnya turun dan beranjak dari bangku kereta. Waktu terasa amat singkat ketika ternyata sudah 1,5 jam aku duduk di sana. Keretaku, senang bisa berjumpa denganmu. Kapan-kapan antarkan aku menyusuri tempat-tempat indah nan menawan lagi yah. =)
  

0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting