Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

1/08/2012

Gaya Hidup Hedonisme ala Jet Set


Ketika gengsi dan gaya hidup remaja tak sejalan dengan finansial     
       

Lingkungan kampus semakin lama semakin menawarkan fasilitas-fasilitas yang mewah dan serba menggiurkan para remaja dan mahasiswa kampus untuk berkunjung atau sekedar nongkrong bareng. Siapa yang tak tergiur dan tergoda jika di lingkungan tempat tinggalnya banyak cafe berjajar, keberadaan toko-toko fashion, area nongkrong, pub, tempat dugem, arena karaoke, dsb. Tanpa disadari lingkungan yang seperti itu lama-lama akan mendorong kita untuk memilih gaya hidup hedonisme yang serba luxurious, dilayani, santai, ala kebarat-baratan. Bagaimana tidak, mengingat setiap hari untuk pergi ke kampus kita harus melewati area tersebut? Pertama kita mungkin melirik sekilas, kedua kita mulai merencanakan acara untuk pergi ke tempat itu bahkan mengajak teman, dan berikutnya kita akan menghabiskan waktu untuk menikmati layanan tempat tersebut. Dan ternyata setelah tahu rasanya berada di tempat tersebut, maka acara berikutnya kita akan menjadi lebih sering kesana bahkan bisa mengajak lebih banyak teman. Artinya juga akan lebih banyak orang yang akan terpengaruh gaya hidup hedonisme.
Mengapa? Yup! Saat berada di sana kita merasa layaknya raja atau ratu yang dilayani para pelayan, merasa seperti orang kaya banyak uang, merasa lux, merasa sejajar dengan kalangan Jet Set. Padahal kondisi itu sengaja diciptakan oleh para pengusaha arena hiburan tersebut untuk lebih banyak menarik pelanggan agar mereka lebih suka menghabiskan sebagian besar waktunya di sana dengan santai memesan menu makanan mahal sambil berkaraoke atau sekedar cuci mata mencari kenalan lain jenis daripada menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah, berdiskusi membahas masalah agama atau mengasah keahlian non-akademis. Sehingga melupakan tugas utama mereka berada di lingkungan kampus tersebut. Bahkan mereka bisa melupakan shalat karena lupa akan waktu akibat terlena akan kesenangan tersebut. Dan hal tersebut terjadi karena ada beberapa faktor pendorongnya salah satunya adalah gengsi

Gengsi adalah keinginan untuk mendapatkan kesan bagus dari orang lain. Kesan bagus tergantung dari topik pembicaraan bersama lawan bicara kita atau teman. Bisa bagus dari segi finansial, latar belakang pendidikan, kedudukan/jabatan, dsb. Gengsi biasanya terbawa saat berkumpul bersama teman-teman atau kelompok sehingga saat salah satu topik yang dibicarakan adalah fashion maka kelompok tersebut saling menunjukkan jati dirinya mengenai merk fashion terbaik yang mereka kenakan untuk sekedar memperoleh kesan bagus dari orang lain. Sehingga jika ada salah satunya mempunyai selera fashion dengan merk lokal dan tidak ternama, maka orang itulah yang nantinya akan menjadi bahan sindiran teman-temannya. Karena itu tak jarang yang terjadi adalah saling iri hati, dengki dan sombong demi mencari gengsi di mata orang lain.
Faktor tersebutlah yang nantinya juga akan menjerumuskan para remaja ke gaya hidup hedonisme ala Jet Set walaupun secara finansial mereka tidak dapat memenuhinya. Ada seorang kawan mahasiswa, sebut saja A yang berteman dengan kelompok remaja suka hura-hura, shopping, nongkrong, dll. Lama kelamaan kelompok tersebut mempengaruhi si A untuk melakukan hal yang sama dengan mereka agar setara, jika si A tidak mengikutinya maka dia akan tereleminasi dari kelompok tersebut. Demi gengsi si A rela memaksakan diri untuk mengikuti gaya hidup mereka padahal secara finansial, kiriman orang tuanya tidak mencukupi. Akibatnya si A memutar otak agar bisa memenuhi gaya hidupnya tersebut meski dengan melakukan cara buruk yaitu dengan melacuran diri.
Melalui cerita tersebut dapat mengingatkan kita pada kehidupan teman-teman kita yang terjebak gaya hidup hedonisme sampai-sampai harus melacurkan diri untuk memenuhi gaya hidupnya tersebut. Kebakaran takkan terjadi tanpa adanya api. Apa yang membuat mereka terhanyut arus pada gaya hidup itu? Ternyata para remaja tersebut belum memiliki prinsip hidup dan pegangan agama yang kuat. Agama yang kuat akan menjaga diri mereka dari perbuatan maksiat, karena agama memberikan aturan-aturan hidup yang sangat detail untuk kehidupan manusia. Sholat adalah tiang agama. Apa yang terjadi jika seorang manusia tidak sholat? Sudah barang tentu pegangan agama mereka juga lemah dan mudah terpengaruh orang lain. Al Qur’an adalah pedoman hidup. Apa yang terjadi jika Al qur’an tidak pernah dibaca dan dipahami? Akibatnya tingkah laku mereka akan semaunya sendiri, keluar dari aturan. Karena pedoman hidupnya tidak pernah dibaca dan diamalkan dalam perbuatan.
Pergi ke restoran, cafe, nongkrong atau shopping itu tidak apa-apa asalkan bukan menjadi bagian dari gaya hidup kita. Sekedar untuk menghibur diri kita dari penatnya rutinitas itu juga perlu, namun jangan lakukan berulang kali sampai memaksakan diri untuk mengikuti gaya hidup tersebut. Bila mampu, finansial cukup dan aktivitas tersebut sesuai kebutuhan tentunya tak jadi masalah, misal, ke resto untuk sekedar makan lalu pulang itu tidak masalah. Namun sekarang orang pergi ke resto dan cafe bukan untuk kebutuhan melainkan hiburan. Setelah selesai makan mereka tidak langsung pulang tapi berlama-lama nongkrong menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bersenda gurau yang tidak penting itulah yang dimaksud gaya hidup hedonisme. Karena sekarang secara finansial baik mampu atau tidak mampu orang masih akan tetap melakukan aktivitas hedonnya itu.
Kawan semua, mari kita bersama-sama merenungkan diri apakah setiap hal yang kita lakukan itu sudah sesuai dengan aturan hidup, dengan tiang agama. Karena apa yang kita lakukan di dunia pastilah mendapat balasan sendiri di akhirat nanti. Dan kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita. Sudah siapkah kita? Apa yang terjadi, jika tiba-tiba saat asyik dugem Sang malaikat maut menjemput? Sudah siapkah bekal untuk di akhirat nanti? Oleh karena itu mari kita luruskan tujuan hidup kita dengan iman dan taqwa untuk membentengi diri kita dari segala kemaksiatan dan tipu daya dunia fana ini. Seperti tertuang dalam Al qur’an :
QS. Al-Hadiid (Al-Hadid) [57] : ayat 20
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

QS. Al-'Ankabuut (Al-'Ankabut) [29] : ayat 64
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

QS. Muhammad [47] : ayat 36
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

Well, sudah memperoleh gambaran yang jelas? Yup! Pilihan ada di tangan masing-masing, mau jadi orang yang istimewa atau biasa-biasa saja. Mau menjadi cendekiawan muslim yang beriman atau menjadi orang yang terbuai akan permainan dan gemerlapanya dunia. Semoga wacana di atas bisa menjadi bahan pemikiran. Dan seorang muslim yang beriman haruslah menyeru kepada yang benar dan mengingatkan kepada yang munkar. Semoga bermanfaat. Life is choice.      

Tags
: hura-hura, hedonisme, gaya hidup sekuler, life style, hedon, foya-foya, pragmatisme, pilihan hidup, permainan dunia ,nongkrong bareng, gengsi, jet set

2 komentar:

  1. EMANG SIH ...KADANG KAYAK TEMEN GUE SI AMIN SALES, BELAGU BANGET NONGKRONG DI KAFE...DUIT ORTUNYA AJA/

    BalasHapus
  2. HARI TANOE TUH PELIT KANTOR LAIN KELUAR NEGERI INI KALAU OUTING PALING KE BANDUNG NAJIS

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting