Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

1/11/2012

Hujan di belantaran sungai Bedadung

Banjir menghiasi sudut kota Jember

   Sore hari ini setelah pulang dari sebuah lembaga bimbel tempatku mengajar, roda motorku terhenti di pinggir jembatan Kembar tatkala menyaksikan beberapa orang berduyun-duyun menuju pinggir jembatan hingga membuatku amat penasaran. Sampai-sampai sempat terlintas di benak bahwa telah terjadi peristiwa bunuh diri atau mayat yang terhanyut aliran sungai. Ya, peristiwa ini tidak pernah kutemui sebelumnya. Ada apa sebenarnya??? Kucoba menundukkan pandangan ke bawah jembatan. Ya.. Allah.. pemandangan yang nyata dan sangat memprihatinkan, beberapa rumah warga yang terletak di bantaran sungai Bedadung nyaris terendam banjir. Kali ini aku benar-benar menyaksikan aliran sungai yang tengah meluap hingga hampir merendam rumah penduduk sama seperti yang kusaksikan di beberapa koran sebelumnya. Ya, kali ini Jember dihiasi dengan banjir yang meluap.
   Kustarter kembali motorku menuju rumah, namun pemandangan tadi masih terbayang-bayang di benakku. Padahal sore ini aku baru saja merayakan acara ulang tahun di bimbel tempatku mengajar bersama kawan pengajar lainnya sambil menikmati hidangan nikmat dengan penuh sukacita. Namun seketika peristiwa tadi telah mengaburkan kegembiraan ini. Apalah arti kegembiraan jika tidak dibagi dengan orang lain? Apalah arti kegembiraan jika saudara-saudara kita ternyata masih dilanda musibah penuh duka? Pikiran-pikiran itu semakin menggelayuti hati ini. Tak disangka musibah yang biasa berada jauh dari mata yang hanya diketahui di media masa ternyata sekarang benar-benar nampak di depan pandangan. 
    Masih teringat berita utama di kolom surat kabar yang pernah kubaca, mulai seminggu yang lalu banjir memang mengguyur deras kabupaten Jember hingga menyebabkan dua desa tergenang banjir, yaitu Dusun Kraton dan Curahlele, Desa Wonosari, Kabupaten Jember. Banjir yang tergenang mencapai 1,8 meter sehingga menyebabkan 645 rumah warga terendam. Akibatnya warga yang rumahnya terendam segera mengungsi ke sanak saudara terdekat, namun ada juga yang masih bertahan di dalam rumah mengingat barang-barang mereka masih berada di sana, takut dicuri orang. 
    Di tempat pengungsian, warga mendapatkan bantuan pangan dari posko pengungsian dengan didirikannya dapur-dapur umum. Namun sekarang keadaan semakin mengkhawatirkan karena persediaan pangan di posko semakin menipis, dan hujan masih saja setiap hari deras mengguyur kedua desa tersebut.

    Dari peristiwa yang terjadi sebelumnya, bisa diprediksi dan akan mungkin terjadi jika kota Jember bakal tergenang Banjir. Namun banjir hanya akan terjadi di daerah yang berketinggian rendah, mengingat kota Jember adalah dataran yang tidak sama ketinggiannya. Luapan air dari sungai Bedadung sebenarnya juga disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Banyak sekali warga Jember yang membuang sampah ke sungai. Mayoritas adalah para pedagang kaki lima yang tak ingin repot-repot membersihkan tenda makannya dengan seenaknya membuang sampah ke sungai. Sebenarnya hal ini sudah lama terjadi dan sudah diperingatkan, namun mereka tetap saja membandel. Bahkan pemerintah daerah telah memasang papan larangan di samping kanan kiri beberapa jembatan dengan tulisan ‘Dilarang membuang sampah di sini’agar warga sadar akan pentingnya menjaga kebersihan kota. Peringatan itu juga saya jumpai di jembatan Jl. Bangka, dekat kampus UNEJ, jembatan samping SMA Muhammadiyah serta papan-papan peringatan di sekitar komplek Perumahan Gunung Batu, tempat saya tinggal. Namun manusia-manusia tak bertanggung jawab ini masih saja enggan untuk menjaga kebersihan lingkungannya dan tetap membuang sampah sembarangan ke sungai. Jika ditegur malah dicela, jika banjir mennghadang malah menyalahkan pemerintah daerah, padahal pemerintah telah mengupayakan kebersihan kota sampai-sampai menempatkan sepasang tong-tong sampah di beberapa trotoar bahkan memisahkannya menjadi dua jenis sampah, yaitu tong oranye untuk sampah basah dan tong hijau untuk sampah kering. Tinggal warganya saja yang mau menaati peraturan atau tidak. Toh aturan itu dibuat juga untuk kepentingan mereka sendiri agar terhindar dari banjir.
     Begitulah fenomena nyata yang terjadi di lingkungan kita. Tidak hanya di Jakarta yang padat penduduk saja bisa terjadi banjir, ternyata banjir juga bisa mengunjungi kota-kota yang warganya masih belum begitu peduli akan kebersihan lingkungan tempat tinggalnya. Berita yang tersiar di televisi, di koran, internet dan berbagai media masa lainnya memang merupakan berita nyata yang patut kita pikirkan dan renungkan untuk mencari solusi terbaik atas semua yang terjadi ini. Memang kita tidak bisa menyelesaikan semua permasalahan dan bencana yang melanda negeri ini. Tapi setidaknya dengan turut prihatin dan mau membuka mata untuk berfikir, kita bisa mengubah diri kita untuk bertindak lebih baik dan memulai tindakan dari diri kita sendiri. Tindakan satu orang juga bisa berdampak bagi orang lain. Oleh karena itu jangan malu dan segan untuk memperingatkan orang lain untuk selalu menjaga kebersihan, sehingga kita juga dapat bersama-sama mewujudkan kebersihan lingkungan yang bebas dari penyakit dan bencana alam. Dan alangkah lebih*baiknya lagi jika kita juga bisa mengulurkan bantuan baik berupa doa, pikiran, tenaga atau materi untuk saudara-saudara kita yang tengah tertimpa musibah banjir.
   Semoga wacana tersebut mampu membangkitkan solidaritas kita dalam menyikapi adanya musibah yang tengah melanda saudara kita akibat bencana alam yang banyak terjadi di negeri ini. Mulailah dari diri sendiri dengan turut menjaga kebersihan lingkungan dan tularkan kepada orang lain untuk bersama-sama mewujudkan keindahan dan kebersihan lingkungan yang bebas dari bencana serta penyakit. Keep Spirit! ^^

Catatan : 
Bagi yang berkenan mengulurkan bantuan berupa dana bagi korban banjir dapat menyetor ke no rek. di bawah ini agar dapat segera direalisasikan pada korban banjir. Harap segera konfirmasi bagi yang sudah menyetor :
     a.n Monafisa Rizqi

     BCA 2000371915
Semoga amal ibadah anda diterima Allah SWT =)


Tags : Banjir, kebersihan lingkungan, korban banjir, rumah terendam, banjir di jember, sungai Bedadung, membuang sampah, bencana alam, sampah, hujan deras

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting