Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

2/26/2012

"Sensasi Tahu Tempe" - 1 Jam Menulis Serentak Milad FLP


Cerpen ini dibuat untuk memeriahkan Milad FLP yang jatuh pada tanggal 22 Februari lalu. Sesuai dengan temanya, maka karya ini dibuat dalam waktu 1 jam. Selamat menikmati dan semoga memperoleh inspirasi. ^^ "Happy B'day FLP!" 

Cerpen


Hidangan lezat lengkap dengan buah-buahan serta minumannya telah tersaji memenuhi meja makan. Mama memang seorang koki handal. Bahan apapun bisa disulapnya menjadi makanan yang sangat lezat. Ada sop daging, perkedel jagung, sayur bayam, cap jay, tempe dan tahu goreng. Hal ini yang membuat Anis sangat merindu-rindukan masakan rumah. Namun ada satu menu yang tak disukainya yaitu menu tempe dan tahu. Dua jenis makanan yang berbahan dasar kedelai itu membuatnya enggan untuk menyentuhnya.
            “Sayang, tempe dan tahunya dimakan dong.”
            Anis menggeleng pelan. Untuk makan siang kali ini dia hanya memilih menu cap jay dan perkedel jagung. Cap jay yang dicampur sosis, udang dan hati ayam membuat menu ini menjad menu favoritnya. Menu itulah yang cocok dengan lidahnya jika dibandingkan dengan tahu dan tempe. Menurutnya menu seperti tahu dan tempe adalah menu orang yang tak mampu, karena harganya yang cukup murah. Dengan uang seribu saja sudah bisa makan dengan lauk tempe. Sedangakan Anis termasuk anak orang kaya sehingga bisa lebih memilih menu makanan lain yang lebih lezat dan bergizi. Jika memang tidak ada bisa menyuruh pembantunya untuk membelikan makan di luar. Maka pantas saja badannya menjadi agak tambun.
            “Sayang, kedelai itu bagus untuk daya ingat kita. Makanan sehat kan tidak harus mahal. Ambil diki..it aja ya..” bujuk mama.
            “Nggak ah ma. Daripada disuruh makan tempe tahu mending nggak makan sekalian aja.”
            Mama hanya bisa menghela nafas. Tahu dan tempe goreng yang dimasak mama memang lumayan banyak mengingat papa akan pulang dari luar kota hari ini. Ternyata penggemar tahu tempe yang ditunggu-tunggu menunda kepulangannya. Papa akan datang lusa karena urusan kantor yang masih belum kelar. Sehingga tahu tempe tersebut masih tersisa banyak. Maklum di rumah hanya ada seorang pembantu, mama dan Anis. Apalagi Anis yang alergi dengan menu tersebut.
            Mama masih mencoba merayu Anis, namun Anis hanya terdiam sambil melahap makanan yang ada di piringnya.
            “Ya udahlah, mama mau kasihkan aja ke tukang becak di perempatan jalan sana.” Ujar mama pasrah.
            Mama pun berlalu pergi. Sebenarnya Anis merasa sedih juga melihat mama yang kecewa karena masakannya masih banyak. Mama memang orang yang paling sayang dengan makanan yang terbuang. Menurutnya di dalam makanan terdapat barokah. Jadi jika dibuang bisa saja barokahnya hilang. Tapi Anis memang benar-benar tak menyukai tahu tempe itu. Melihat makanan itu seolah-olah membuatnya hidup menjadi orang yang paling miskin sedunia dengan makan tahu tempe. Persis makanan rakyat jelata, pikirnya.
            “Maafin aku ma.” Ujar Anis lirih.
***
            Barang sudah dikemasi Anis akan berangkat ke kosan barunya. Gadis yang baru menjabat sebagai mahasiswa baru ini akan memulai perjalanan baru di sebuah kota yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Karena universitas yang termasuk favorit itu terletak di sana.
            “Hati-hati di jalan ya.. jangan lupa bekalnya dimakan. Trus, kalau udah sampai telepon mama ya.”
            “Iya ma, jangan kuatir. Anis pergi dulu ya ma.” Pamit Anis sambil masuk ke dalam mobil.
***
            Hujan tengah turun dengan derasnya disertai angin yang lumayan kencang berhembus, membuat daun-daun pohon bergoyang. Anis segera memasuki kamar kos barunya sambil menggigil kedinginan.
            Krucuk... krucuk...
            Ternyata perutnya mengirimkan sinyal tanda mita diisi. Empat jam perjalanan cukup membuat tubuhnya lesu dan butuh energi baru. Hujan-hujan begini paling enak adalah makan, dan akan bertambah enak kalau habis makan tidur. Maka Anis pun membuka tas ranselnya untuk menemukan tempat bekal berwarna kuning. Anis sudah membayangkan betapa lezatnya masakan rumah. Cap jay. Begitu pikirnya.
            Sial!
            Begitu bekal makanan dibuka, Anis hanya menemukan dua jenis makanan yang paling dibencinya. Apalagi kalau bukan tahu dan tempe beserta nasi putih. Bagaimana bisa dia memakan kedua makanan yang dianggapnya tidak enak itu.
            “What?? Ah, masa mama bercanda?”
            Begitulah ekspresi Anis tatkala menelepon mama ketika protes atas bekal makanan yang diberikannya. Mama ingin Anis sekali-kali mencicipi lezatnya tahu dan tempe bikinan mama. Mama ingin Anis lebih mandiri dan tidak manja saat berada jauh darinya. Namun Anis tak menyerah begitu saja ia masih berdebat dengan mama. Dan kemudian sambungan telepon pun terputus.
            Anis menghela nafas. Dipandanginya menu makanan yang tergeletak di dalam tempat bekal makanannya itu, seolah-olah berkata ‘Eat me!’. Hujan-hujan di siang hari begini sangat sulit menemukan restauran atau cafe yang buka. Sebenarnya ada penjual makanan yang bertengger di atas trotoar dekat kampus. Namun Anis sangat alergi dan jijik dengan makanan pinggir jalan tersebut, karena alasan tidak higienis dan tidak sehat. Tentu sangat berbeda sekali dengan masakan mama yang selalu terjaga kebersihannya. Sehingga kini dua pilihan menantinya. Makan tahu tempe atau pergi ke luar kosan hujan-hujan untuk membeli makanan pinggir jalan yang kurang bersih. Atau, tidak makan sama sekali.
            Krucuk.. krucuk
            Bunyi itu kembali terdengar. Dasar perut memang tidak bisa diajak kompromi. Bisanya hanya menuntut diisi dengan makanan saja. Anis tampak bingung sekali. Wajahnya meringis menahan perutnya yang muali bertambah perih namun ragu untuk memakan tahu tempe itu.
            “Hidup atau mati.”
            Anis teringat kata-kata semangat pejuang Indonesia saat berjuang mati-matian mengusir penjajah. Meski peperangan sangat menyakitkan namun itu lebih baik daripada mati di tangan penjajah. Ia bandingakan keadaan itu dengan dirinya saat ini. Nyaris sama persis. Anis juga tengah berjuang melawan rasa perih di perutnya atau mati kelaparan di kos-kosan barunya. Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk mencoba menikmati tahu dan tempe itu.
            Perlahan kedua tangannya meraih tahu dan tempe itu. Tahu di tangan kanan dan tempe di tangan kiri. Kini tinggal memasukkannya ke dalam mulut saja untuk mengobati sinyal kelaparan dari perutnya yang meraung-raung sedari tadi. Lalu digigitnya sedikit tahu itu. Dikunyah pelan sambil menikmati rasanya.
            “Hm.. enak!” ujar Anis kaget.
            Dan segera dicobanya juga tempe yang ada di tangan kirinya. Ternyata Anis mulai menikmatinya. Tempe dan tahu ternyata mempunyai cita rasa yang lumayan enak. Anis pun makan dengan lahapnya. Porsi nasi yang lumayan banyak itu pun tak tersisa diserbunya. Tak ada yang tahu jika ada seorang penghuni kosan baru yang tengah asyik menggilai tahu tempe itu.
            Anis semakin sadar kalau tahu dan tempe itu tak patut disalahkan. Tahu dan tempe juga makanan karunia Allah. Jika bukan karena kedua makanan tersebut, pasti di sudah enggan hanya makan nasi putih saja. Akhirnya dia sadar bahwa dia harus menyukuri segala nikmat tuhan baik enak maupun tidak. Dan mulai saat itu Anis menjadi penggemar tahu dan tempe seperti papanya. Dia semakin belajar bahwa tak selamanya yang tidak enak itu buruk.

Jember, 26 Februari 2012

Oleh : Monafisa

0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting