Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

8/04/2012

Setetes Keringat Ibu

Realita Hidup
Cerpen yang pernah saya kirimkan ke Radar Jember namun belum lolos seleksi.
Oleh Monafisa Rizqi 

            Dayu masih memandangi keempat anaknya yang tengah tertidur pulas di lantai yang beralaskan tikar usang itu. Dipandanginya wajah mereka satu persatu. Wajah lugu yang menyiratkan rasa letih setelah seharian belajar dan bermain. Keempat anak yang tengah menunggu kedatangan ibunya namun tak kuasa lagi menahan kantuk akhirnya tertidur juga.
            Ibu sayang kalian Nak. Jangan resah anak-anakku,” ujar Dayu pelan sembari membentangkan selimut ke tubuh anak-anaknya itu.
            Dayu yang sudah paruh baya dengan uban yang mulai tumbuh itu setiap hari harus pulang larut malam untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan keempat anaknya. Suaminya telah lama meninggal tujuh tahun lalu karena gugur di medan perang demi membela tanah air. Kini Dayulah yang harus membanting tulang sendirian, meski terkadang banyak rintangan yang menghadangnya. Tak jarang tetangga-tetangganya memergoki Dayu dengan sindiran dan ejekan setiap Dayu pulang larut malam. Mereka menyebut Dayu sebagai ‘wanita malam’ yang suka melayani hasrat pria hidung belang. Dijelaskan panjang lebar pun tak cukup untuk menghentikan ocehan beberapa tetangganya yang lebar mulut itu. Ia hanya bisa menerima cobaan dengan pasrah dan tetap berpikiran positif bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik untuknya.
***
            “Bu, Nisa minta uang buat bayar SPP,” ujar Nisa, putri sulung Dayu.
            “Kapan hari terkakhir pembayarannya, Nak?”
            “Bulan depan Bu. Oh ya, sekolah akan menaikkan biayanya jadi semuanya tiga ratus ribu, Bu”
            Dayu pun terdiam sejenak. Bulan depan artinya seminggu lagi, waktu sudah semakin dekat.
            “Iya Nak, kita bayar bulan depan saja ya,” kata Dayu sambil tersenyum.
            “Bu... Ibu.. ! Adi juga sama. SPPnya mau naik juga,” sahut Adi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
            “Oh, iya nanti ibu lunasi,” Dayu tersenyum kembali.
            “Bukan Adi saja Bu. Sebenarnya... Kak Irma dan Kak Hasan juga.”
            “SSsssttt...!” sahut Hasan yang dari tadi ada di ruang tamu.
            Adi hanya tertunduk sambil memeluk Dayu.
            “Hasan, tidak apa-apa, Nak. Ini sudah tanggung jawab ibu. Yang penting kalian semua bisa bersekolah. Ibu hanya ingin kalian belajar yang rajin, ya Nak,” kata Dayu sambil memeluk ketiga anaknya. Irma yang baru dari dapur, langsung bergabung menuju pelukan Dayu.
Dayu memeluk keempat anaknya dengan erat-erat. Dayu tak ingin mereka memikirkan biaya sekolah, biarlah Dayu saja yang akan mencari caranya. Biaya sekolah memang mahal, walaupun anak-anaknya tidak disekolahkan di RSBI ataupun SBI, biayanya tetap saja membengkak dan bahkan bulan depan akan naik lagi.
            Uang pensiunan suaminya beserta gaji bulanan yang diterimanya dari kerja menjaga warung ternyata masih belum cukup untuk melunasi biaya SPP keempat anaknya itu. Apalagi bulan depan akan naik lagi. Belum lagi ditambah dengan isu kenaikan harga BBM yang cukup besar, tentu akan membuat semua harga kebutuhan pokok turut melambung. Uang, uang dan uang lagi. Hal ini membuat Dayu berpikir keras untuk memperoleh penghasilan tambahan.
***
            “Maaf Bu, tidak ada lowongan.”
            Ini sudah kedua puluh kalinya kata-kata itu terucap. Dayu pun kembali menyusuri jalanan ibukota. Matanya tertuju pada langkah kakinya yang pelan, tengah mencari arah dimana lagi dia akan memperoleh jalan keluar.
            Tiba-tiba langkahnya terhenti pada sebuah dompet hitam di depannya. Dayu pun memungutnya. Ternyata di dalamnya terdapat beberapa lembar uang kertas merah yang jumlahnya mencapai jutaan. Matanya pun terbelalak.
            “Dompet siapa ini?” pekik Dayu dalam hati.
            Tentu saja jika uang sebanyak ini digunakan untuk membiayai uang sekolah anak-anaknya serta hutang-hutang Dayu tentu akan lebih dari cukup. Tapi uang itu bukanlah haknya. Uang yang haram tidak akan membawa berkah.
            “Ya Allah... apa yang harus aku lakukan?” ujar Dayu lirih dalam kebimbangannya.
            Dayu ingin sekali mengambil uang itu. Namun dari dalam lubuk hatinya ia menepis keinginannya. Dayu masih punya akal sehat. Dia harus mengembalikan dompet itu pada pemiliknya. Di lain sisi, sebenarnya ia amat membutuhkan uang itu. Apa jadinya nanti jika uang itu dikembalikannya? Pastilah ia takkan mendapat apa-apa, bahkan dia akan kembali pada kegundahannya mencari solusi perekonomian hidup.
            Lama sekali Dayu terpaku pada isi dompet tersebut di bangku taman kota. Ia benar-benar diuji sekarang, mana yang harus dipilihnya. Kembali teringat wajah keempat anaknya yang masih polos. Belum saatnya mereka mengalami kerasnya kehidupan. Tiba-tiba Dayu pun beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
***
            “Terima kasih banyak Bu. Akhirnya... dompet ini ketemu juga. Mari-mari silahkan masuk dulu, mari minum dulu.”
            “Tidak Bu, terima kasih,”
            “Ayolah.. sebentar saja kok Bu,” bujuk wanita berpakaian necis itu.
            Akhirnya Dayu pun masuk juga ke rumah wanita itu. Begitu memasuki ruang tamu, Dayu langsung tercengang. Rumahnya sangat megah dengan perabotan yang bernilai jutaan. Ia menduga pasti wanita di hadapannya ini adalah konglomerat kaya pemilik berbagai perusahaan besar.
            “Ibu, tidak saya sangka. Jaman sekarang masih ada orang yang jujur seperti Ibu,”
            “Saya hanya melakukan kewajiban saya, tidak mengambil barang yang bukan hak saya. Meski...” ucapan Dayu terputus sambil wajahnya tertunduk.
            “Meski apa Bu?”
            “Meski sebenarnya saya sedang butuh uang itu Bu. Maafkan saya, saya hanya orang kecil. Bu, ka.. kalau boleh.. sa.. saya mau pinjam uang untuk biaya sekolah anak saya.. Bu” ujar Dayu terbata-bata.
            “Bu...”
            “Maafkan saya Bu.. saya hanya bingung semua barang akan naik, BBM naik, biaya pun sekolah naik. Saya tidak tahu lagi harus minta pertolongan ke siapa, tolong saya Bu..” kata Dayu sembari menitikkan air mata. Ia sudah kehabisan akal untuk memendam permasalahannya sendiri.
            Sedangkan wanita yang ada di depannya itu hanya tertegun.
            Ternyata wanita itu adalah seorang istri pejabat di negara ini. Wanita itu serasa ditampar keras oleh pengakuan Dayu. Ia baru sadar akan apa yang terjadi di realita hidup ini. Rakyat kecillah yang menaggung segala putusan suaminya. Bahkan istrinya juga benar-benar tahu bahwa suaminya terlibat dugaan korupsi uang negara. Bagaimana bisa ia menyembunyikan hal itu pada rakyat kecil, seperti Dayu? Sosok ibu yang lemah dan berjuang memeras keringat untuk pendidikan anak-anaknya. Sementara dia dan suaminya bisa menikmati hasil korupsi tersebut dengan senang dan tanpa merasa bersalah.
            “Bu, maafkan saya...” istri pejabat itu pun mengisakkan tangis sembari berlutut di hadapan Dayu.
            “Ada apa Bu..?” tanya Dayu heran.
            Wanita itu hanya terdiam tak mampu mengungkapkan kata-kata. Bibirnya terasa ngilu untuk mengatakan realita yang menggoreskan luka di hati rakyat kecil seperti Dayu. Rakyat kecil yang dianggap lebih rendah derajatnya ternyata memiliki nilai kejujuran yang amat tinggi. Ia merasa dirinya menjadi sangat rendah di hadapan Dayu, seorang ibu yang tak kenal lelah memperjuangkan pendidikan anak-anaknya.

***Selesai***


0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting