Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

8/08/2012

Cerpen Kanak-kanak

ADIK BARU
Cerpen ini adalah cerpen yang pernah kukirimkan ke majalah Bobo, ini hasil iseng-iseng bikin cerpen anak.
Oleh : Monafisa Rizqi
            Tika masih manyun setelah beberapa kali merengek-rengkek ke mamanya dengan wajah memelas. Kedua kakinya dijulurkan ke atas sofa. Mukanya amat tak sedap dipandang. Wajah imutnya jadi terlihat jelek meski sudah terkuncir rapi dengan hiasan pita di ujungnya.
“Menyebalkan, pelit banget sih mama... pelitt... peliitt, mama udah nggak sayang lagi sama Tika” gumannya sambil melipat tangan.
Tika melihat ke seisi rumah. Sepi. Dia tak berhasil membujuk mama untuk ikut bersama ke acara pernikahan teman mama. Tika terngiang-ngiang ucapan mama tadi.
“Sayang... kamu kan udah gede. Sekarang Tika harus jaga rumah. Biar adek sama mama ya.. cuma bentar kok”
“Ah! Mama pelit!”  keluh Tika sambil menghujamkan tinju ke permukaan Sofa. Untung saja sofanya empuk, coba kalau keras bakal kesakitan tangannya.
Gadis yang baru duduk di bangku kelas enam SD ini memang sedikit manja. Maklumlah sudah lama menjadi anak tunggal keluarga, tiba-tiba dia harus berganti status menjadi kakak sulung. Ini semua terjadi setelah kelahiran Adi. Adik bayi yang baru keluar dari perut mama pada empat bulan yang lalu. Dasar Si Adi. Dia telah berhasil merebut seluruh perhatian mama. Segalanya menjadi berubah semenjak kehadiran Adi. Perhatian papa dan mama langsung terfokus padanya. Saat Adi lahir, semua gembira menyambutnya. Saat Adi tertawa, semua terkagum-kagum. Bahkan saat Adi buang air pun Mama dan Papa perhatian sekali dengan sabar mengganti popoknya. Memang sekarang menjadi sangat berbeda. Untuk urusan kamar saja Tika juga harus berbagi ruangan untuk tempat menaruh mainan-mainan Adi. Tika juga harus membagi waktunya untuk menjaga Adi saat mama sibuk di dapur. Tak jarang Adi menangis begitu keras sehingga membuat Tika harus berusaha menenangkannya. Menjengkelkan sekali. Inilah yang membuat Tika jadi uring-uringan akhir-akhir ini.
Bagaimana tidak, kemarin saat Tika meminta baju baru ke mama untuk dipakai saat pesta ulang tahun temannya, mama tidak mau membelikannya. Kata mama bajunya masih banyak yang baru, dan sekarang kebutuhan Adilah yang harus diutamakan. Mulai dari membeli susu, pampers, bubur dan perlengkapan bayi lainnya. Kini Tika harus sering mengalah padanya.
***
Tika baru saja tiba dari minimarket dekat rumah lalu meletakkan barang-barang belanjaan pesanan mama di lantai dapur, karena hari ini mama akan membuat kue.
“Hm.. telur.. tepung... udah. Emm.. Tik, soda kuenya mana?”
“Lho, emang nggak ada yah ma?”
“Nggak ada nih.”
“Aduh, lupa ma.. arhh... balik lagi deh,” keluh Tika dengan penuh kekecewaan.
Melihat sikap Tika yang seperti itu, mama segera mengambil jilbab yang tergantung di balik pintu kamarnya lalu segera beranjak keluar.
“Jaga Adi ya Tik, mama beli soda kue dulu,” kata mama terburu-buru.
Tanpa mendengar sahutan Tika, mama sudah melenggang pergi. Berarti sekarang hanya Tika dan Adi yang ada di rumah. Kini giliran Tika yang harus berperan jadi baby sitternya Adi.
“Hmh... Adi lagi ngapain ya..?”
Tika pun meneliti seisi rumah mencari adik satu-satunya itu. Ternyata Adi tengah asyik bermain sendirian dengan boneka Sponge Bobnya di kamar Tika. Tika pun tersenyum senang.
“Ah... kali ini bisa ngerjain PR dengan tenang. Adek pintar, jangan berisik yah.” Ujarnya pada Adi dengan tersenyum simpul.
Adi yang masih belum mengerti akan bahasa manusia seperti apa yang dikatakan Tika barusan hanya menoleh sebentar ke arah Tika, lalu kembali asyik dengan boneka Sponge Bobnya lagi.
Tika pun segera beranjak ke ruang tamu lalu menyibukkan diri dengan beberapa PR yang harus dia kerjakan. Baginya keheningan Adi merupakan sesuatu yang lagi langka, karena Adi adalah bayi yang sering rewel, sehingga tak jarang membuat mama kewalahan. Namun beruntungnya kali ini saat mama pergi, Adi bisa bersikap manis.

***
Seperempat jam kemudian.
Tika masih sibuk dengan soal-soal dari gurunya. Kali ini ia tengah mengerjakan soal matematika sehingga memerlukan waktu yang lumayan lama untuk memecahkan jawabannya.
“Ehm.. tumben Adi nggak rewel” guman Tika saat baru menyadari situasi yang hening di rumahnya itu.
Tika pun kembali mengerjakan PRnya. Dia tengah sibuk mencoret-coret kertas buram untuk menghitung angka-angka matematika yang harus dipecahkannya. Namun tiba-tiba jari-jarinya langsung terhenti kaku. Dia merasa ada sesuatu yang salah. Lalu ia pun segera berlari menuju kamar tidurnya.
“Ade..kkk!!”
Tika langsung menjerit histeris saat menemukan tubuh Adi terkulai di lantai dapur dengan mulut yang berbusa. Tika pun segera menggendong Adi lalu merabahkannya di kasur, setelah memencet kontak nomor mama melalui ponselnya. Tika tampak panik dengan mata  terbelalak, pikiran yang berputar-putar dengan jari yang digigit-gigitnya sendiri. Tika tak bisa membayangkan betapa marahnya mama nanti kalau tahu sang kakak sulung ini tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Kini Tika hanya bisa menunggu mama datang. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa, karena Adi ditemukannya telah terbaring lemas dengan mulut berbusa itu. Tika masih saja menggigit-gigit bibirnya sembari menepuk-nepuk jidatnya seolah tak percaya akan apa yang tengah dialaminya saat ini.
***
Kini Adi masih berada di ruang UGD. Tampaknya dokter dan petugas medis lainnya tengah berusaha keras menyelamatkan Adi dengan mengeluarkan racun yang ada pada tubuhnya. Sementara mama, papa dan Tika masih berharap-harap cemas di ruang tunggu depan UGD.
“Ma... maafin Tika,” ujar Tika lirih sambil menahan air matanya yang mulai membanjir.
Mama hanya menghela nafas sembari mengusap kedua tangan Tika. Usapan lembut pada tangan Tika mungkin bisa mengurangi sedikit keresahannya. Sedangkan papa sedari tadi masih mondar-mandir di depan ruang UGD. Papa sangat khawatir akan keadaan Adi sekarang ini.
Selang beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari pintu UGD, membuat mama, papa dan Tika langsung bangkit menghampiri dokter tersebut.
“Dok, tolong anak saya Dok. Bagaimana keadaannya?” tanya mama penuh harap.
“Tenang saja Bu. Anak ibu baik-baik saja dan sekarang telah dipindahkan ke ruang pasien untuk menjalani perawatan,” jawab sang dokter sambil tersenyum.
Begitu mendengarnya raut muka mama langsung berubah lebih tenang. Tampaknya jawaban dokter sangat mengobati kekhawatiran mama.
“Bu, lain kali kalau ada anak kecil di rumah. Jangan menaruh zat berbahaya sembarangan. Adi telah menelan cairan pewarna kue, sehingga dia langsung tak sadarkan diri dengan mulut berbusa. Untung kasus ini ditangani dengan cepat” ujar sang dokter.
Mata mama langsung melotot dan pandangan beralih ke arah Tika. Mama memandangnya dengan penuh arti. Tika merasa amat bersalah atas semua ini. Akibat kecerobohannya Adi kini harus terbaring di rumah sakit, bahkan Tika telah membahayakan nyawa Adi. Pikirannya semakin sesak dengan perasaan-perasaan takut, was-was, dan amat bersalah. Bagaimana bisa dia membiarkan seorang anak kecil bermain sendirian tanpa pengawasan. Apalagi penyebab keracunan itu tadinya adalah bahan-bahan kue yang tak sengaja diletakkannya di lantai dapur. Tika berpikir seandainya saja barang belanjaan itu segera diletakkannya di meja yang tak terjangkau Adi, mungkin hal ini takkan terjadi. Ah, sebuah penyesalan selalu terjadi belakangan. Tika memang tidak bisa dipercaya untuk menjaga Adi. Sebenci-bencinya Tika pada Adi, ternyata masih ada rasa iba dan kasih sayang dalam diri Tika terhadap Adi.
Dari balik pintu Tika menemukan sesosok bayi kecil yang terkulai lemas di ranjang rumah sakit dengan sebuah selang infus yang tersambung di pergelangan kecil kanannya. Perlahan Tika masuk ke dalam. Kemudian dipandanginya bayi kecil tak berdosa itu.
“Dek, maafin kakak. Selama ini kakak selalu benci dan iri sama adek. Padahal adek adalah satu-satunya saudara kakak. Bahkan kakak iri dengan perhatian lebih papa mama ke adek. Kakak nggak mau kehilangan kasih sayang itu. Maafin kakak Dek...” ujar Tika terisak sembari mengelus rambut halus Adi. Sedangkan Adi masih tertidur nyenyak.
“Tika... maafin mama dan papa sayang... mama papa janji akan lebih memperhatikan Tika. Mama terlalu sibuk mengurus Adi, karena Adi masih terlalu kecil sayang dan butuh perhatian lebih...,” sahut mama pelan yang tiba-tiba sudah ada di belakang Tika.
Ternyata dari tadi mama mendengar ucapan Tika dari balik pintu kamar. Begitu mendengarnya mama sangat terharu. Mama baru sadar bahwa anak sulungnya juga masih butuh perhatian lebih darinya. Memang mama menyadari setelah Adi lahir Tika menjadi sering terabaikan. Dulu mama selalu menemani Tika belajar, menemani jalan-jalan dan bercanda bersama. Namun sekarang tak ada lagi hal-hal menyenangkan itu. Pikiran Mama telah terpusatkan ke Adi. Bayi laki-laki yang sekarang tengah terbaring lemas.
“Ma..Tika janji akan merawat Adi dengan baik. Tika nggak mau Adi sakit lagi. Ini semua gara-gara Tika Ma... Tika salah... Tika bodoh..”
Tika sudah tak mampu lagi menahan air matanya yang kini tengah membanjiri pipinya. Tika hanya bisa terisak dalam pelukan mama, berharap mama mau mengerti dan memaafkannya. Dengan sebaris senyuman dan naluri keibuan mama, mama menghibur dan membelai rambut Tika. Papa dan mama sekarang juga berjanji pada Tika akan membagi perhatiannya secara adil kepada kedua anaknya. Karena bagi mereka Tika dan Adi adalah anak-anak emas yang amat berharga dan harus disayangi.
Adi pun masih tertidur pulas sambil tersungging sebuah senyuman manis dari bibir kecilnya.


**Selesai**

1 komentar:

  1. Assalamualaikum wbth...

    Salam perkenalan dari
    TiranaAduka...
    Selaku blogger baru ...memohon maaf atas kehadiran di blog ini.....tanpa diundang...maaf dari Tirana..

    From TiranaAduka.....: Mengenali TiranaAduka - kesihatan.

    Jemput singgah blog saya.....jika ada kelapangan dari anda.....

    From TiranaAduka.....: Bila diri Tirana Dicintai....tanpa ku sedari


    Wasalam..
    Ikhlas,
    TiranaAduka...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting