Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

8/03/2012

Si Encep

Encep & Tutup panci
Cerita yang terinspirasi dari cuplikan iklan TV luar negeri
Oleh : Monafisa

            Encep segera berlari menuruni anak tangga di depan rumahnya dengan tutup panci di tangan kanannya.
            “Encee....eep!! Kemari! Balikin!”
            “Pinjem Ma..aak!” sahut Encep cepat.
            Sari, sang kakak tak tinggal diam. Gadis berambut sebahu itu pun turut berlari mengejar Encep. Maklum saja, tutup panci itu akan digunakan Emaknya untuk menanak nasi. Tanpa tutup panci, nasi takkan lekas matang, dan berarti hari ini tak ada jatah makan siang.
            Encep menyusuri gang-gang sempit di depannya dengan secepat kilat sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Sari sudah menjauh. Ternyata perkiraannya salah. Sari juga jago lari, sehingga tak sulit baginya untuk mengejar Encep yang tadi lari duluan.
            Sial!
            Sang kakak sulung semain mendekat, memaksa Encep untuk memutar otak. Ah, untungnya di depan ada kandang kuda. Mungkin bisa dijadikan tempat persembunyian yang bagus. Maka Encep pun segera menerobos masuk pagar kandang kuda itu sebelum Sari menemukannya.
            “Ence...ee..pp? Dimana kamu?” panggil Sari sambil mengalihakan pandangan ke segala arah.
            Encep menghilang. Sari telah kehilangan mangsanya. Kemudian dia pun bergegas menyusuri gang lurus di ujung sana. Mungkin saja Encep menuju arah sana. Jika Si Encep tak dapat ditemukan, Emak pasti akan sangat marah padanya.
            Sementara Encep pun keluar dari peraduannya dan mengendap-endap seperti maling dari balik pohon. Pandangannya tertuju pada tutup panci merah yang tertumpuk di meja belakang rumah tetangganya. Butuh situasi aman untuk mengambilnya, karena kini sang pemilik tengah berdiri di dekat sana.
            Tak lama kemudian, Encep pun beraksi. Aman. Perlahan-lahan tapi pasti Encep menuju tempat sasaran. Namun ia harus menenangkan bayi di samping meja itu dulu agar tidak membuat gaduh.
            “Ssstt,, anak manis jangan rame ya..” bisik Encep.
            PRANG! GUBRAK!
            “Hei! Mali..iing! Malii..ing!”
            Aksi Encep kurang sempurna. Ia menjatuhkan seluruh peralatan dapur yang ada di atas tutup panci merah itu. Spontan saja Deden, anak pemilik tutup panci itu mengejarnya. Lagi-lagi Encep harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melarikan diri.
            Ditelusurinya lagi gang-gang sempit yang pengap itu. Meloncati pagar, merobohkan tiang jemuran orang hingga merusak pertandingan sepakbola anak-anak kampung. Alhasil semua orang merasa terganggu. Baik Sari, Deden, anak-anak kampung sampai Pak Satpam pun turut mengejarnya. Dasar Si Encep kecil-kecil cabe rawit. Larinya kesit sekali hingga membuat orang yang mengejarnya kewalahan. Encep pun menuju sebuah tanah lapang.
            Ternyata di sana sudah ramai dengan dentuman lagu akapela. Uniknya, lagu tersebut dihasilkan dari barang-barang bekas yang dimainkan. Mayoritas pemain musik itu adalah anak gelandangan. Lalu Encep pun ikut bergabung. Dia menggunakan kedua tutup panci itu sebagai cymbal untuk menyempurnakan iringan lagu tersebut, sehingga lagu yang dihasilkan lebih bagus dan berirama.
            Sementara orang-orang yang tadinya mengejar Encep langsung tertegun. Mereka tak pernah mengira akan melihat konser musik jalanan yang sebagus itu, apalagi alat-alat yang digunakan adalah dari barang bekas semua, termasuk kedua tutup panci yang diambil Encep tadi. Lama-kelamaan mereka mulai menikmati musik yang berdentum itu dan berjoged ria bersama.
            Hari semakin sore, mentari pun kembali ke peraduannya. Konser musik jalanan itu telah usai. Encep pun menyudahi permainannya dan menghampiri Deden yang sedari tadi juga menjadi penikmat musik setianya.
            “Ini kak, aku kembalikan tutup pancinya. Maaf ya..” Kata Encep pelan.
            Deden hanya tersenyum. Deden yang tadinya marah jadi urung, karena melihat kegigihan Encep untuk bermain musik, sampai dibela-belain mengambil tutup panci orang.
            Tak lama kemudian, Encep pun tiba di depan rumah. Pasti Emaknya bakal marah. Sehingga dengan kepala tertunduk Encep menyerahkan tutup panci pada Emak. Emak yang mendengar cerita tentang konser musik jalanan dari Sari itu menjadi amat kasihan dan terharu dengan sikap Encep. Tanpa berkata-kata Emak memeluk Encep.
            “Encep memang anak emak yang paling hebat..” ujar Emak seraya mengelus kepala Encep.
            Ternyata sesuatu yang kurang ada gunanya seperti tutup panci tadi, sebenarnya malah memberikan manfaat besar yang tak pernah kita duga sebelumnya. Selain itu jarang kita temukan anak seperti Encep yang gigih menggapai keinginannya. Dia tak peduli resiko besar yang akan didapatnya, seperti dikejar-kejar warga sekampung hanya untuk memperoleh dua tutup panci sebagai pelengkap iringan musik akapelanya. Mencuri bukanlah hal yang patut ditiru, tindakan Encep sebenarnya juga salah. Namun jika tidak berbuat demikian, pakai ijinpun sudah pasti dia takkan diperbolehkan untuk meminjam tutup panci tersebut. Semoga kisah ini menjadi sebuah inspirasi bagi hidup kita.
           
 
*Selesai*

1 komentar:

  1. ini video di Youtubenya ada ga? pernah liat di kuliah, cuma gatau judulnya,

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting