Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

11/27/2012

Menjamurnya Toko Waralaba

Ketika sistim dagang kuno bersaing dengan sistim waralaba modern

            Sepanjang sudut kota Jember, tak sedikit kita dapati berbagai toko modern yang menawarkan kemudahan berbelanja yang lengkap dan mudah dalam suatu waktu dan tempat. Mobilitas masyarakat yang semakin ramai dan padat membuat orang cenderung menginginkan gaya berbelanja yang fleksibel, simpel dan hemat waktu namun mampu mencukupi kebutuhan yang diinginkan. Toko serba ada berbasis sistem waralaba modern ini dikembangkan oleh para pengusaha bagi orang yang ingin menginvestasikan modalnya tanpa harus terjun langsung bekerja menangani bisnis tersebut. Bermodalkan lokasi strategis dan kucuran dana franchise toko modern legkap ini bisa berdiri dan dalam kurun waktu singkat yang mampu menarik perhatian pengunjung untuk berbelanja di sana, bahkan dalam satu bulan bisa menghasilkan pemasukan lebih dari 10 juta (seperti yang dituturkan oleh seorang karyawan toko yang bersangkutan).
            Sudah tak asing lagi toko waralaba tersebut telah bertebaran di sudut-sudut perkotaan, bahkan di desa-desa. Padahal menurut aturan yang ditetapkan oleh pemkot, jarak minimal antara toko waralaba yang satu dengan yang lainnya adalah 500 meter (dikutip dari Antarajatim.com dan www.harianbhirawa.co.id), tetapi kenyataan di lapangan berbeda bahwa jarak satu toko dengan lainnya bisa 300-250 meter. Maka hal ini perlu ditindaklanjuti kembali oleh pemkot mengenai permudahan masalah perijinan tempat dan usaha.
            Seperti halnya toko waralaba yang menjamur di sepanjang jalan yang mengelilingi kawasan Universitas Jember, mulai Jl. Jawa-Jl. Karimata-Jl.Riau-Jl. Kalimantan-Jl. Mastrip. Pemandangan bangunan toko berbelanja modern ini sudah tidak asing lagi. Bahkan ada sejumlah penduduk di daerah Bangka yang memasang banner besar bertuliskan protes atas pembangunan toko waralaba di daerahnya, karena jarak toko satu dan lainnya berdekatan. Namun, anehnya semua toko yang berdiri laku dan ramai dikunjungi pembeli. Mungkin karena kawasan kampus adalah kawasan padat penduduk, dengan berdirinya area kos-kosan yang banyak dihuni oleh remaja kampus sehingga kebutuhan sehari-hari mereka juga berbanding lurus dengan keberadaan toko-toko waralaba tersebut. Namun hal ini teramat disayangkan karena telah mematikan usaha toko kelontong masyarakat kecil atau pemilik usaha pribadi dimana sistim penjualannya masih kuno atau sangat jauh jika dibandingkan dengan sistim penjualan toko waralaba.
            Bandingkan saja, toko waralaba dilengkapi dengan alat pendingin ruangan yang menjadikan pengunjung betah dan nyaman, produk-produk yang berjajar rapi, serta promo diskon yang menawan. Lalu dilengkapi dengan alunan musik slow mendayu-dayu, disambut oleh karyawan toko yang rapi, ramah dan tetap tersenyum (untuk memenuhi layanan prosedural) serta sistim pembayaran yang menggunakan software input komputer dan infra red maupun dengan kartu debit atau kredit yang mempercepat proses pembayaran. Berbeda dengan toko kelontong atau toko yang biasa dijaga oleh perorangan. Toko perorangan lebih bersifat individu dan kurang memperhatikan kenyamanan serta efektifitas pembelian. Pengunjung masih merasa gerah dan berdesak-desakan atau mengantri lama jika toko tengah ramai, barang yang dijual belum lengkap, beberapa barang masih ditemui yang sudah kadaluwarsa (karena tidak adanya kontrol masa berlaku barang), sistim pembayaran manual, yaitu masih memakai perhitungan angka kalkulator atau pikiran bahkan terkadang pembeli harus menunggu penjual mengecek harga barang yang belum dihafalnya pada daftar harga. Faktor-faktor itulah yang menyebabkan calon pembeli enggan untuk berbelanja di toko rumahan atau perorangan dan lebih memilih belanja di toko waralaba. Apalagi sekarang di toko waralaba sudah tersedita atm tertentu di dalamnya, sehingga ketika pembeli kekurangan uang atau pada saat mengambil uang dari atm dimungkinkan bisa berbelanja di sana dengan mudah.
            Memang arus globalisasi dan kecanggihan teknologi telah turut mengubah gaya hidup berbelanja masyarakat. Segalanya semakin modern dan serba canggih. Maka manusia pun enggan untuk ketinggalan jaman atau tidak memfungsikan kehadiran perkembangan teknologi tersebut. Inilah kesempatan besar bagi pebisnis untuk menjaring arus perjalanan uang konsumen agar lebih membudayakan budaya konsumtif. Bekerja sekeras-kerasnya untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya agar gaya hidup hedonis dan konsumtifnya bisa terpenuhi. Inilah ciri dari salah satu sistim perekonomian kapitalis yang mulai merasuki budaya Indonesia. Budaya yang awalnya dari barat ini sekarang merambah ke sistim perekonomian Indonesia. Bahwasanya sistim kapitalis lebih menekankan pada ketamakan dan keserakahan untuk mendapatkan untung yang sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan kaum minoritas yang masih kesulitan atau terhimpit pergolakan sistim ekonomi. Maka tak ayal lagi meskipun sudah banyak toko kelontong di sebuah area, toko-toko waralaba masih turut hadir dan menjamur. Sehingga mengalihkan calon pembeli yang awalnya berbelanja di toko kelontong berganti ke toko waralaba karena faktor fleksibilitas dan kenyamanan yang ditawarkan oleh toko waralaba tersebut.

            Jember adalah kota yang tengah hangat-hangatnya digalakkan program entrepreneurship. Inilah kesempatan besar bagi kaum muda atau calon pengusaha untuk merombak pasar. Bisa jadi dengan jalan ini toko kelontong juga bisa bersaing secara fair denga toko waralaba, yaitu dengan meningkatkan kinerja, kenyamanan, kemudahan serta pelayanan yang memuaskan pelanggan. Jaman sudah berbeda, begitu juga sistim penjualan pun seharusnya berbeda. Sehingga masalah ini jangan sampai dijadikan sebagai suatu penyebab timbulnya perselisihan atau tindak anarkis antara pemilik toko kelontong dengan toko waralaba. Namun seharusnya menjadi sebuah persaingan bersih dalam dunia pasar. Karena bagaimanapun juga pembeli adalah raja, orang yang akan menggulirkan atau meningkatkan arus kas bisnis. Maka dari itu sangat diperlukan sekali kerjasama antara pemkot kota dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah ini.

0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting