Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

11/02/2012

Pesona Burger Jemberan

Terik Mentari di kota Tembakau

    Siang yang terik membuat mataku silau dan berkali-kali harus kuusapkan peluh yang mengucur di dahiku. Oh, inikah yang dinamakan Global Warming? Akhirnya mata kuliah hari ini selesai tepat pukul dua belas siang. Ah leganya, bisa menyandarkan bahu santai sejenak sembari menyelonjorkan kakiku pada bangku kayu yang diduduki temanku tadi. Hiruk pikuk celotehan mahasiswa Sastra masih menggema dengan renyahnya, mendukung suasana kota tembakau ini menjadi lebih berkeringat.
                Mon, kalo nggak sibuk antarkan aku ya...
                Satu pesan muncul di layar ponselku, membuatnya bergetar teratur bagai mengedipkan mata sebagai kode agar aku segera membuka pesan itu.
                “Hm.. kebetulan Jum’at lagi nggak ada acara. Sekalian jalan-jalan,” pikirku.
                Langsung saja derap langkah kaki ini tersetting otomatis menuju lataran parkir, lalu mencari Si Rose, motor matic hitam yang sengaja aku skotlet dengan aksen bunga mawar liar. Ah, motor kesayanganku sudah menungguku. Tak berapa lama, badanku sudah melesat bercampur debu dan keramaian jalan yang merayap. Aku baru sadar, sekarang jam pulang kantor dan sekolah.
***

                Seorang gadis berambut cepak berwajah oriental menungguku dari depan pintu pagar rumahnya sambil melambaikan tangan lalu tersenyum cerah. Hm.. Dia sudah menungguku dari tadi rupanya. Maaf kakak yang manis, dosenku tadi tengah terlena dengan waktu yang bergulir hingga mengabaikan dahi berkerutku dan tatapan manyun ini.
                “Yuk, mbak. Cabut!” Seruku sambil menutup kaca helm agar wajahku terlindung dari ganasnya ultraviolet.
                “Ntar mampir ke bank dulu ya,, aku mau transfer.”
                Aku hanya mengacungkan jempol kiriku sembari tangan kananku memegang gagang setir. Kami pun menuju ke daerah alun-alun Jember. Alun-alun kota yang dihiasi oleh bangunan kokoh bank konvensional.
                Sesampainya di bank, aku menunggu gadis berpipi tembem bak bakpao itu di kursi tunggu bank. Lumayan, pendingin ruangan di sini cukup bekerja dan membantuku untuk mengusap peluh sejenak. Hmm... gadis oriental yang selalu ceria dan tak pernah mengeluh itu terlihat sedang antri menunggu gilirannya menukarkan slip setoran. Biasa, beli VCD korea-an untuk dijual lagi.
                Ya, hidup memang keras. Walaupun pahit, kita harus mampu bertahan menahan hantaman badai kehidupan. Seperti gadis bermata sipit itu yang telah lama ditinggal ibunya dan mencukupi kebutuhan hidup dengan berjualan produk-produk handmade berbau Korea yang tengah digandrungi pemuda-pemudi berbhineka ini. Meski, dia harus berjuang menjadi wanita tangguh bagi ayah dan seorang kakak laki-lakinya yang belum menikah sampai saat ini, dia tetap semangat dan jarang terdengar untaian keluh kesah dari bibirnya. Ikhlaskan saja, begitu ulangnya saat dulu kutanya.
***

                1 jam kemudian, si Rose akhirnya mendarat di parkiran seluas lapangan sepakbola salah satu mal terbesar di Jember. Langsung saja aku dan gadis yang sedari tadi duduk di atas motorku segera berlari menuju area permainan yang bertuliskan ‘Game Fantasia’. Fantasia, sangat selaras dengan khayalan kami berdua. Berfantasi tinggi untuk meraih sebuah impian besar. Kami masih bersama-sama memperjuangkan kegiatan jual-beli olshop kami masing-masing, mencoba membuat inovasi baru dan membangun networking. Kami selalu membicarakan hal-hal besar, ‘Apa yang akan terjadi seandainya jika...’. Pikiran kami bergitu membahanan membumbung di angkasa, tinggal kami saja yang harus meraih asa yang berterbangan itu agar mampu berada di tangan kami.
       Hari ini aku ingin mengajaknya tersenyum ceria melalui berbagai permainan seru khas remaja, meski lebih tepatnya kami bisa disebut sebagai mantan remaja sekolahan. Kebetulan saldo game-ku masih banyak, jadi aku bisa membagi keceriaanku saat bermain game bersama kakak manis itu.
***

        Lelah dan haus setelah berteman dengan permainan gerak badan tersebut, akhirnya kami berdua menuju cafe terdekat. Gadis bermata sipit yang doyan makan ini segera mengajakku untuk berkuliner dengan sebuah roti bulat besar bertaburkan wijen dan daging cincang giling di bagian tengahnya. Harum baunya, seperti fresh from oven. Akhirnya burger menggoda itu pun berpindah tempat ke meja cafe nomor tujuh di paling ujung. Ah, jadi ingat Sponge bob dengan Krabby Pattynya.
          Meja kecil nomor tujuh itu pun penuh dengan menu pesanan kami yang menjadi teman setia saat membicarakan imajinasi dan impian-impian besar kami, atau sekedar lelucon segar pengundang tawa. Sesekali kamera dua megapixel ini berperan menjadi penyimpan memori keceriaan bersama. Ah, kami dua gadis dua puluh tahunan yang tengah menikmati masa kesendirian dengan penuh mimpi. Mimpi akan memiliki sebuah bisnis pribadi yang besar, mimpi bertemu motivator terkenal, ataupun mimpi berjalan-jalan keliling dunia. Ya, mimpi di tengah-tengah perjuangan keras menaklukkan skripsi yang ada di depan mata.
           Burger lezat dengan mayonise meleleh itu menjadi penyegar suasana untuk mempersiapkan mental dan raga menghadap senior lulusan S2 atau S3 yang sehari-hari memberi perkuliahan pada kami. Burger bertekstur lembut itu mengalihkan dunia nyata kami dengan berbagai fantasi akan masa depan. Masa depanku, masa depan gadis oriental yang tertawa riang juga.

0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting