Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

2/01/2013

15 Hari di Olean

Bersama Keluarga Baru 


    Detik demi detik... Hari demi hari pun berlalu. Olean yang awalnya terasa asing bagiku, dengan udara panasnya serta lingkungan yang penuh dengan hamparan permadani hijau telah berganti menjadi teman akrab keseharianku. Lima belas hari telah kujalani di desa nan asri ini. Ya, Olean adalah nama sebuah desa berjarak kurang lebih 10 km dari alun-alun kota Situbondo. Desa yang menjadi markas besarku. Haha, sebut saja markas karena memang Olean adalah desa tujuanku saat menjalani 45 hari bersama keluarga baru di kabupaten Situbondo ini.
    Yap, kali ini kegiatan harianku semakin ramai. Bagaimana tidak? Kini aku tinggal bersama delapan orang kawan yang sebaya denganku, sama-sama menjabat sebagai mahasiswa Universitas Jember tentunya. Mahasiswa yang ingin meraih masa depan gemilang, dan salah satu caranya adalah lulus menempuh mata kuliah KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) seperti yang tengah kami jalani saat ini. KKM atau Kuliah Kerja Mahasiswa yang sekarang telah berganti menjadi KKT atau Kuliah Kerja Terpadu mengharuskan mahasiswa untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Seperti halnya yang tengah kujalani saat ini adalah bergelut dengan warga atau masyarakat beserta kehidupannya dengan mengabdikan diri agar membawa manfaat bagi warga sekitar, karena mahasiswa adalah sosok terpelajar yang dianggap mampu untuk membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat. KKT adalah wadah yang sangat bermanfaat untuk menerapkan ilmu-ilmu yang ku dapat di bangku perkuliahan di lapangan. Bahwa diriku yang notabene adalah mahasiswi Sastra Inggris setidaknya mampu memberikan sumbangsih kebahasaan ataupun kesusastraan pada masyarakat yang tentunya nanti akan menunjang perekonomian warga. Salah satunya adalah Penuntasan Buta Aksara.
     Penuntasan Buta Aksara adalah salah satu program dari pemerintah kabupaten Situbondo, mengingat masih ada sekitar 6.000-an warga yang belum melek huruf (seperti yang dikutip dari 'Radar Situbondo'). Pemerintah berharap dengan adanya penuntasan buta aksara, dapat membantu masyarakat untuk melek tehnologi, update berita dan perkembangan pasar sehingga nantinya akan dapat menunjang sistim perekonomian dalam masyarakat. Program ini adalah program yang sangat penting dan wajib dilaksanakan oleh mahasiswa KKT. Oleh karena itu, mulai minggu ke-2 penerjunan KKT, para mahasiswa sudah aktif membentuk kelompok-kelompok belajar buta aksara agar proses pengajaran lebih mudah. 


    Seperti yang dilakukan oleh kelompokku, yaitu kelompok 3. Berhubung desa Olean terdiri dari 67 mahasiswa KKT, maka kordes pun membaginya lagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Dan akhirnya dirikulah yang tergabung di kelompok 3. Beruntung juga, kelompok 3 adalah kelompok yang diketuai oleh ketua yang cekatan dan handal dalam menjalankan program, selain itu anggotanya juga saling membantu. Sehingga solidaritas dan kekompakan kami cepat terbangun, program pun segera dijalankan dengan lancar dan tepat waktu. Bahkan bisa dibilang kelompok 3 adalah kelompok yang paling tepat waktu mengumpulkan laporan mingguan kelompok kepada kordesnya. 
     Kembali ke program buta aksara, kelompok 3 sudah memulai program pada tanggal 29 Januari 2013 hari Selasa kemarin. Program pertama berlangsung di rumah salah satu bapak RT, yaitu di rumah Bpk. Yadi, bapak RT 3. Saat itu warga yang hadir ada 7 orang. Mayoritas usianya sudah menginjak kepala empat. Sehingga kami harus lebih bersabar mengajari baca tulis pada mereka. Namun di luar dugaan, sambutan dan respon kelompok belajar tersebut sangat antusias, bahkan tak satupun dari mereka yang berniat pulang duluan saat pelajaran berlangsung. Ini adalah kabar gembira bagi kelompok kami. Karena di desa lain mahasiswa KKT masih harus membayar uang senilai 5000-10.000 rupiah pada setiap warga yang datang. Untung kami tidak mengalaminya, sehingga dana kas kelompok bisa lebih dihemat dan bisa digunakan untuk keperluan KKT lainnya. 
    Itulah lima belas hari pertamaku bersama keluarga baru. Oya, kini diriku jadi ibu dapur. Setiap pagi ke pasar dan menyiapkan menu masakan untuk anggota kelompok. Agak repot sih, tapi menyenangkan. Jadi aku bisa praktek masak terus tiap hari. Hehe. Well, kawan. Lima belas hari ini merupakan hari-hari adaptasi dan hari-hari penuh penyesuaian. Terutama penyesuaian suhu tubuh dengan lingkungan desa Olean yang panas. Bahkan aku harus menyalakan kipas angin nonstop 24 jam di kamar karena begitu gerahnya. Semoga pengalaman kecil ini bisa menjadi referensi bagi pembaca yang kira-kira masih akan menjalani KKT tahun depan.

Tags : Kuliah kerja mahasiswa, program pemerintah, rakyat, desa Olean Situbondo, musim panas, buruh tani, buta aksara, lansia

0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting