Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

2/01/2013

Kuliner Situbondo

Sedapnya Menu Murah Meriah


    Selama berada di area KKT (Kuliah Kerja Terpadu), aku dan kawan-kawan meluangkan waktu untuk mencicipi hidangan khas Olean maupun masakan khas Situbondo. Situbondo yang kental dengan aroma maduranya pasti juga mempunyai masakan khas yang tak kalah saing dengan masakan penduduk aslinya. Berikut adalah beberapa reportase atau bisa disebut sebagai hasil hunting kuliner bersama kawan KKT :

1. Siomay Pujasera
   Siapa yang tak kenal makanan kenyal dengan rasa 'mak nyuusss' nya ini? Siomay sebenarnya adalah makanan khas Bandung, namun entah bagaimana ceritanya dan tak tahu bagaimana sejarahnya tiba-tiba Siomay merebak ke seantero penjuru Jawa, dan salah satunya ada di Situbondo ini. Siomay ini menjadi hidangan makan malamku bersama kawan-kawan KKT saat berada di Pujasera Alun-alun. Saat itu kami ingin menikmati suasana dinner yang berbeda dari biasanya, sehingga jadilah Pujasera sebagai salah satu referensinya. Sepiring Siomay terdiri dari tahu, campuran kentang, telur, dan kanji sehingga rasanya kenyal dan sedap sekali. Apalagi dibalur dengan kuah kentalnya yang super duper lezat. Bumbu yang dicampur juga lumayan banyak, sehingga begitu terasa pekat di lidah. Enak deh pokoknya! Sepiring siomay ini seharga Rp.6.000,- saja. Murah bukan? Bertandang di tempat yang lumayan cozy dan berharga miring memang patut menjadi referensi menarik.


2. Tahu Lontong

     Pada hari Kamis pagi kemarin, perwakilan kelompok diundang pada acara rapat bersama kelompok tani serta penyuluh yang ada di desa untuk berembug tentang penanaman pohon. Rapat yang berlangsung  di desa Kandang Barat memakan waktu sekitar 4 jam itu pun selesai pada pukul 11 siang. Dan tak lama kemudian, acara yang mengenyangkan pun datang, memang rezeki takkan kemana. Pas lapar pas ada makanan gratis. Ternyata kami disuguhi hidangan berat atau makan siang dari paguyuban kelompok tani tersebut. Menu yang disediakan adalah Tahu Lontong. Mungkin kuliner ini sudah tak asing lagi di telinga kita, dimana ada warung pinggir jalan yang menjual gorengan, biasanya di situ juga berjualan rujak atau tahu lontong. Namun tahu lontong Situbondo berbeda pada racikannya. Yaitu kecambahnya yang lebih banyak, memakai lontong yang dibalut daun pisang serta dibumbui dengan kuah yang legit dan kental. Menu ini biasa disantap dengan krupuk warna warni renyah. Soal rasa? Leziiisss... abiss! Pas sekali di lidah. Porsi juga tidak terlalu banyak cukup untuk makan siang. Beruntung memang saat itu, sang ketua kelompokku tengah berhalangan hadir, sehingga aku yang harus mewakili datang ke rapat tersebut. Dan tahu lontong pun menjadi santapan sedapku saat itu. Harganya? Gratis! Karena sebagai hidangan rapat. Hehe


3. Soto Koyah
   Kuliner yang satu ini telah menjadi menu makan siang menjelang sore kelompokku. Saat itu adalah hari kedua kami menjadi keluarga baru. Sebut saja kelompok kecil 03. Kami yang masih awam dengan suasana dan kondisi desa, bahkan juga belum mengenal beberapa warung setempat. Kami pun mencoba menjajaki sebuah warung yang terletak di perbatasan antara Olean Dsn. Krajan dengan Olean Tengah. Warung yang sederhana di pinggir kali yang memanjang tersebut dihuni oleh sepasang suami istri berumur lima puluh tahunan. Sang istri, tentu saja yang bertugas menjadi koki sekaligus pelayan warung. Kami pun masing-masing memesan menu soto koyah. Kuliner ini tak jauh beda dengan soto-soto lainnya, hanya saja koyahnya lebih banyak dan tentu saja ciri khas Situbondo adalah, banyak kecambah. Rasanya cukup natural, tidak terlalu banyak vetsin dan lemak ayam. Cocok bagi pengidap kolesterol. Soto ini sebenarnya seharga Rp.7.500,- namun berhubung kami yang memesan memakai jaket KKT, maka untung kami terima, soto pun menjadi Rp.5.000,- saja. Bahkan itu sudah termasuk segelas air putih yang disiapkan ibu warung. Sayangnya, saat memesan soto ada sedikit kendala yang ku alami, yaitu komunikasi. Lagi-lagi karena Sang ibu berbahasa madura, jadi aku hanya bisa menerka-nerka artinya dan butuh terjemahan bahasa Indonesia dari temanku. Saat memesan aku hanya bisa berkata 'Buk, duek gak pake kecambah, setong gak pakek ayam, diganti telor, berempah?'. Dan Si ibu pun hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat lare osing berbahasa madura sepertiku. Tak apalah yang penting kenyang.
     Itulah ketiga menu khas Situbondo yang berhasil didokumentasikan dan berhasil pula kumakan setelah mencerna komunikasi dalam dwi bahasa, bahasa Indonesia dan madura. Sebenarnya masih ada menu-menu lain seperti bakso tenis, rujak, nasi bungkusan dan es degan. Tapi sayang, waktu itu lagi 'gak mood' motret, jadi mungkin lain kali kalau ada kuliner yang lezis en sedap akan segera kuposting buat pembaca. Selamat maka...aaaaann! :)

0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting