Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

4/11/2013

Kebiasaan Masal Orang Indonesia

 Fakta Unik tentang waktu, di Indonesia

1. Waktu Yang Tidak Konsisten
 
 Jika Orang Indonesia mempunyai janji bertemu dengan sesorang, saat ditanya kapan janji bertemunya. Dia akan mengatakan 'Hm... Nanti malam kita bertemu' atau 'habis maghrib ya..'. Padahal 'nanti malam' bisa berarti pukul 7 malam, 8 malam atau bahkan bisa pukul 11 malam. Dan 'habis maghrib' juga bersifat ambigu. Karena tidak semua orang bergama Islam dan memahami waktu maghrib, sehingga mungkin ada sebagian yang bingung dengan istilah 'habis magrib' tersebut. Hal ini terjadi karena Indonesia menganut waktu pulau, yaitu seperti waktu siang dan malam. Sehingga orang Indonesia terbiasa membuat janji dengan waktu yang tepat, seperti 'Saya tunggu jam 12.00 siang' dan lebih memilih mengatakan 'oke, sekitar jam 12-an ya...'. Fakta ini juga dipengaruhi oleh sistem kebahasaan. Bahwasanya bahasa Indonesia bukan bahasa kuno yang sifatnya kurang memiliki kekayaan kosakata dan ketepatan waktu. Berbeda dalam penggunaan bahasa Inggris yang mengandung unsur ketepatan dan kejelasan hingga selesai atau masih berlangsungnya aktifitas berlangsung pada tenses. 
   Dalam bahasa Indonesia kita bisa mengatakan 'Saya makan' dengan kata yang sama pada kondisi yang sama. Entah kita makan pada pagi atau siang hari, makan kemarin, sekarang atau bahkan yang akan datang. Sehingga pola ini pun mempengaruhi pola berbicara orang Indonesia dalam bertindak, yaitu cenderung tidak tepat waktu. Nah, dari hal tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa bahasa mempengaruhi budaya dan tingkah laku manusia.

2. Sering terlambat
    Keterlambatan bagi mayoritas orang Indonesia adalah sesuatu yang wajar. Terlambat 5 menit berarti anda telah datang lebih awal. Sehingga tak jarang saat ada pesta kawinan, meskipun jam yang tertera pada undangan sudah ditentukan, misal '14.00', namun acara akan diundur bahkan molor hingga 1-2 jam karena tamu undangan cenderung datang terlambat. Apakah penyebabnya? Ternyata hak ini juga dipengaruhi oleh fakta no.1 di atas, yaitu budaya waktu yang tidak konsisten. Selain itu juga dari kebiasaan menjadi 'Mr./Mrs. Hurry'. Kedatangan kita akan terasa menyenangkan jika terlambat dan orang lain menunggu kita datang. Tak hanya itu saja, tapi juga karena tak sedikit orang yang berpikiran hal sama akan waktu. "Ah, terlambat sedikit saja tak apa, kan masih ada yang lain". Ternyata pikiran ini tak hanya muncul pada satu orang tapi banyak orang juga. Sehingga tak heran jika sering terjadi acara terlambat jama'ah atau terkenal ngaret
    Maka dari itu bagi orang yang sangat menghargai waktu, menjadi orang yang berbeda untuk datang awal dan rela menunggu kedatangan tamu lain adalah suatu tantangan sendiri. Yup, datang terlambat adalah godaan besar sebagai orang yang mencoba untuk disiplin dan tepat waktu. 

3. Menyukai Detik Terakhir
    Saat melihat papan pengumuman, brosur ataupun pemberitahuan pendaftaran sebuah acara seminar, talkshow, lomba, dsb. Orang Indonesia cenderung memilih registrasi pada detik-detik tanggal cap pos. Memang istilah the power of kepepet memiliki dampak yang besar pada kemunculan power dan semangat seseorang. Namun jika hal ini diterapkan terus-menerus dalam kehidupan, hasil yang diperoleh akan setengah-setengah tidak maksimal dengan jalaran untuk menghindari tanggal deadline. Anehnya juga, masih ada pendaftar yang melakukan registrasi on the spot atau pada saat hari H acara. Sehingga tak jarang panitia pun kelabakan dan peserta yang daftar akhir juga tidak bisa maksimal mendapatkan fasilitas yang disediakan karena sudah habis atau terbatas, berhubung mendaftar pada hari H saat segala persiapan sudah selesai. Selain itu, hal ini juga kerap dijumpai pada saat pengumpulan tugas dan laporan kerja. Di saat senggang, ternyata orang lebih memilih menggunakannya untuk melakukan aktivitas santai dan yang disukai sementara membiarkan pekerjaan wajib menumpuk hingga mendekati deadline. 
   Jika kita mau mengamati hal ini, kita akan lebih peka bahwa sebenarnya kita lebih bisa menunjukkan sesuatu secara maksimal asalkan kita mau memulainya dengan action sekarang juga. Memang menunda hanya akan menumpuk pekerjaan dan menambah beban pikiran, akhirnya apa yang kita lakukan pun menjadi tidak maksimal. 

4. Kurang manajemen
    Orang yang pekerja keras, banyak kegiatan dan disiplin biasanya memiliki sebuah buku agenda yang selalu dibawanya kesana kemari. Isinya tentu saja agenda harian, mingguan bahkan mingguan. Mereka juga tak lupa mencatat target bulanan atau tahunan untuk memfokuskan goal mereka setiap harinya, agar setiap hari menjadi sebuah usaha peningkatan diri dan keinginan. Namun kebiasaan ini nampaknya hanya diterapkan di budaya barat dan pebisnis besar saja. Ternyata orang awam sendiri malas dan bahkan tidak pernah menuliskan impian atau goal hariannya. Padahal hal itu adalah secuil aktifitas yang tidak memakan waktu namun penting untuk membangun mental yang tanggung serta produktif dalam memanfaatkan waktu. Maka tidak jarang jika kita tidak memiliki agenda yang rapi, saat selesai mengerjakan suatu pekerjaan atau pada saat luang, kita menjadi kehilangan konsentrasi. Sehingga beralih mengerjakan aktivitas yang kurang produktif (baca : senang-senang & refreshing). 

 
 So, Kawan... berubah menjadi lebih baik dengan memuli diri untuk berkebiasaan produktif dalam menghargai waktu. Waktu memang tidak bisa berkompromi dan akan terus berjalan, menggerogoti sisa usia kita hingga usia kita tak terasa mulai senja, setelahnya baru kita sadari banyak waktu yang telah kita buang di usia muda. Mari mulai dari sekarang, lalu kapan lagi? Biasakan menghargai waktu, karena kita takkan tahu waktu kita hidup di dunia akan berapa lama lagi. Tetap semangat dan produktif! ^^


0 comments:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting