Jelajahi Jember dalam 1 hari anda!

5/05/2013

Bedah Novel 'Rinai' di Unmuh Jember

Bedah novel 'Rinai' bersama Sinta Yudisia

   
  Acara yang diawali dengan kegiatan lomba cerpen PNE awards dalam rangka memeriahkan hari pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei kemarin ini adalah acara Bedah Novel Rinai bersama penulisnya langsung, yaitu Sinta Yudisia dari Surabaya. Bunda Sinta, begitu nama sapaannya, adalah seorang penulis yang telah aktif menulis novel fiksi dan telah menghasilkan karya berupa novel sebanyak 49 buku. Beberapa karya beliau yang terkenal adalah Road to Empire, Rose, Takhta Nirwana, dan Rinai. Dan kali ini Rinai adalah novel primadona yang akan dibedah bersama di gedung D, Universitas Muhammadiah Jember pada Minggu, 05 Mei 2013. Dan kali ini, lagi-lagi saya mendapat tawaran sebagai MC acara. Alhamdulilah, untuk yang ke-3 kalinya saya juga bisa bersua kembali dengan beliau, setelah tahun lalu juga pernah memandu acara Bunda Sinta di balai BKKBN Jember, dan juga bertemu di acara Bisik FLP Jatim di Jombang. Akhirnya novel Rinai yang pernah saya beli dulu bisa dibedah di seminar kali ini. 
   Rinai adalah sebuah cerita fiksi yang mengadaptasi tentang kehidupan rakyat di Gaza-Palestina yang tengah dilanda duka diserang oleh tentara Israel. Memang di Indonesia untuk novel yang bertemakan Gaza-Palestina sudah pernah dikupas habis oleh para penulis laki-lakinya. Namun untuk penulis perempuan masih belum ada, sehingga Bunda Sinta terinspirasi untuk menuliskan tema tersebut ke dalam sebuah cerita yang lebih mudah dibaca dengan bahasa khas ala Bunda Sinta yang lebih menonjolkan detail setting. Maka tak heran saat pembaca membaca novel Rinai akan terasa seolah-olah nyata berada di area medan perang Gaza. Ternyata detail yang menjadi ciri khas beliaulah yang juga tadi disampaikan oleh Bunda Sinta saat menjawab salah satu pertanyaan dari peserta seminar. 
    "Bunda, bagaimana langkah-langkah meramu novel yang benar?" 
     Yup! Pertanyaan itulah yang telah dijawab Bunda Sinta bahwasanya lagi-lagi sebuah novel bisa diramu dengan cara mencari detailnya. Misalkan bisa melalui membaca berbagai referensi dan artikel yang valid, agar nanti informasi yang kita dapat tersebut lebih mencitrakan keaslian suasana Gaza, lebih tepatnya untuk setting novel itu sendiri. 
    Acara yang berlangsung mulai pukul 8.00 hingga pukul 11.30 pagi hari ini cukup mendapat sambutan antusias dari para peserta. Hal ini terlihat saat moderator mempersilahkan peserta untuk mengajukan pertanyaan kepada Bunda Sinta Yudisia. Maka tak sedikit ada enam orang yang maju ke depan dan bertanya. Selain itu, ternyata ada juga beberapa penanya yang mengaku sudah pernah membuat novel atau cerpen dan menawarkannya pada penerbit, namun masih juga ditolak. Nah, disinilah peran Bunda Sinta untuk memberikan suntikan semangatnya kepada para peserta. Bahwasanya seorang penulis jika ingin tulisannya diakui publik harus sabar menunggu hasil dan terus berusaha. Bahkan untuk menjadi seorang penulis terkenal dan karyanya laris di pasaran, Bunda Sinta Yudisia telah menginvestasikan diri untuk berproses menulis sejak 10 tahun yang lalu. Artinya beliau untuk menuju cita-citanya menjadi penulis terkenal haruslah terus dan terus berusaha serta tidak instan. Hal yang instan juga akan berakhir dengan instan. Sehingga untuk menjadi seorang penulis produktif haruslah terus berkarya walaupun posisinya sudah berada di puncak ketenaran. Karena jika menulis diibaratkan sebagai wadah berdakwah, menuangkan pikiran dan meluruskan pemahaman, tentu saja aktivitas menulis akan berbeda dengan penulis yang hanya memiliki motivasi terkenal dan selesai di titik tersebut. Dengan kata lain menulis akan terasa ringan karena dilandasi rasa cinta. Apalagi jika menulis sudah mendarah daging bahkan menjadi hobi tersendiri. 
   
   Kawan, memang memulai adalah hal yang perlu adanya sedikit pemaksaan dan keberanian dari diri kita sendiri. Kemauan saja belum cukup tanpa diimbangi niat serta kerja keras untuk istiqomah menulis. Jikalau tulisan kita masih belum dimuat atau telah terus ditolak oleh beberapa media penerbit, janganlah kita lantas berkecil hati lantas menyerah dan urung menjadi penulis. Karena penulis-penulis hebat dan terkenal seperti J.K. Rowling, Stephanie Mayer, Felix Siau, Andrea Hirata, Dahlan Iskan, Habibburahman El Shirazy, bahkan juga Bunda Sinta Yudisia awalnya juga memulai menulis dari titik 0. Yang membedakan mereka dengan penulis biasa adalah kemauan, kerja keras dan juga jam terbang yang tinggi dalam kepenulisan. Jika beliau-beliau tersebut mampu, kenapa kita tidak? 
    Maka, segerakan pikiran, hati dan badan kita untuk menulis. Tulis apa saja, tulislah dari pengalaman sehari-hari atau pengamatan objek yang ada di depanmu. Karena sesungguhnya menulis adalah eksistensi diri kita. 


3 komentar:

  1. wah, makasiiiiih Mona cantik

    BalasHapus
  2. bolej ku link ke twitter n blog ku ya?

    BalasHapus
  3. Monggo,, boleh2 saja bunda.. :)
    ---MONA---

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Your Pasif Income

Adsense Indonesia

Domain & Hosting mulai 30rb, Click disini! (The cheapest Domain & Hosting)

hosting